![]() |
| Ilustrasi. |
Dewasa ini, rakyat Indonesia sangat
merindukan sosok seorang pemimpin, baik untuk memimpin negara maupun memimpin daerah yang mereka tempati. Rakyat begitu mendambakan Pemimpin yang sangat peduli akan kehidupan rakyatnya
yang dengan ikhlas mengabdi, membangun dan mensejahterakan mereka tanpa mengharapkan timbal balik, apalagi memiliki niat keji untuk menguasai negara dengan mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara berlebihan, dan rakyat mengharapkan pemimpin yang tidak di intervensi oleh pihak manapun, apalagi seperti yang tadi saya jelaskan, yaitu memiliki niat keji.
Rakyat Indonesia Khususnya, para masyarakat kaum proletar (buruh) baik buruh tani, yang mungkin saja tanah yang mereka garap bukanlah tanah mereka, melainkan pemilik para tuan tanah, yang bisa kapan saja tanah itu dijual tanpa melihat apa yang akan terjadi pada buruh tani tersebut. Dan juga buruh-buruh yang lainnya yang terus bekerja tanpa mengenal lelah dan waktu, namun upah yang mereka dapatkan tidak seberapa. Dan mereka-mereka inilah yang beranggapan para pemimpin bangsa telah memandang sebelah mata kepada meraka dan lebih memihak kepada kelompok, ataupun golongan-golongan tertentu.
Rakyat Indonesia Khususnya, para masyarakat kaum proletar (buruh) baik buruh tani, yang mungkin saja tanah yang mereka garap bukanlah tanah mereka, melainkan pemilik para tuan tanah, yang bisa kapan saja tanah itu dijual tanpa melihat apa yang akan terjadi pada buruh tani tersebut. Dan juga buruh-buruh yang lainnya yang terus bekerja tanpa mengenal lelah dan waktu, namun upah yang mereka dapatkan tidak seberapa. Dan mereka-mereka inilah yang beranggapan para pemimpin bangsa telah memandang sebelah mata kepada meraka dan lebih memihak kepada kelompok, ataupun golongan-golongan tertentu.
Lalu, Konflik antar partai politik yang berkepanjangan yang tak kunjung usai mengakbitkan masyarakat hanya
sebagai korban dari pemuasan hasrat mereka yang semata-mata hanya ingin
mendapatkan sebuah kekuasaan. Inilah, yang menjadikan masyarakat khususnya kaum
proletar (buruh) hanya dibutuhkan pada saat Pemilihan Umum (Pemilu) maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mereka diberikan janji-janji manis, namun realisasinya sangat kurang bahkan sangat tidak memuaskan. Sehingga pada akhirnya, setelah masa pemilihan usai, mereka (Kaum buruh) dilupakan begitu saja.
Dunia perpolitikan Indonesia yang
selalu dikotori oleh Black Campaign (kampanye hitam) bagaikan candu bahkan
sudah seperti virus yang sulit diobati dengan cara apapun. Masyarakat yang
secara tidak sadar diarahkan oleh para politikus kotor untuk melakukan hal
tersebut. Contohnya, Masyarakat yang diberikan sejumlah uang dan bantuan saat
atau sebelum masa kampanye bahkan masyarakatpun telah terbiasa akan hal
tersebut. Ada lagi kegiatan yang dilakukan oleh para politikus untuk
memenangkan calon pemimpinnya yaitu dengan mengunjungi tempat-tempat kegiatan
masyarakat seperti acara-acara keagamaan dan sosial, mereka dengan sangat
antusias mengikuti kegiatan tersebut bahkan memberikan bantuan baik berupa
materi maupun non-materi. Tetapi, setelah calon mereka terpilih sebagai
pemimpin. Mereka menghilang begitu saja jangankan untuk memberikan bantuan
sekedar mengunjungi kegiatan-kegiatan tersebut saja sudah tidak lagi dilakukan.
Inilah termasuk kedalam kampanye hitam yang sangat merugikan masyarakat. Karena
itulah, bangsa Indonesia dituntut untuk lebih cerdas dalam memilih seorang
pemimpin yang sesuai dengan visi misi dari bangsa ini. Khususnya, para
masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang sangat minim pengetahuan akan
politik, merekalah yang menjadi tujuan dan sasaran utama para politikus kotor untuk memenangkan calon
pemimpin mereka.
Sebagian masyarakat Indonesia saat
ini akan dihadapi dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang mana akan
menentukan nasib mereka. Karena itulah, masyarakat harus cerdas dalam memilih
siapa yang akan memimpin daerah mereka. Pemimpin yang ikhlas dan berbakti untuk
negera dan bangsa ini yang dengannya dia memimpin tidak ada hasrat untuk menguasi
bahkan mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM)
demi kepentingan pribadi dan kelompoknya semata.
Maka dari itu jadilah pemilih yang
cerdas janganlah melakukan golput dan apatis terhadap Pilkada ataupun Pemilu,
karena itu hanya akan menguntungkan kelompok atau golongan yang berambisius untuk menguasai negera
dan bangsa ini. Dengan menguras habis Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat kaya ini.

0 Komentar