Sahabat PMII Unis bersama Bapak Pengidap Tumor


Tanggung jawab siapa? Mungkin itu pertanyaan yang saat ini membabi buta, berkecamuk di pikiran saya, seolah tidak memberikan sedikit waktu untuk saya menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Bagaimana tidak mengganggu pikiran, disalah satu kota yang dianggap maju oleh sebagian kalangan, ditambah kota tersebut menjadi salah satu Kota Penopang Ibukota. Namun yang mengganggu benak saya, mengapa masih banyak sekali warganya yang jauh dari kehidupan sejahtera. Miris memang, tapi itulah yang saya dapati, dan saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.

Ibu pertiwi kembali menangis, mungkin itulah yang terlintas dalam pikiran setengah sadar saya. Ibu pertiwi menangis tersedu-sedu karena anak-anaknya kini semakin tidak peduli akan saudaranya. Entah apa yang ada dipikiran anak-anaknya kini, dan apakah saat ini anak-anaknya sudah tidak memiliki hati nurani saat melihat saudaranya membutuhkan uluran tangan, sedikit bantuan untuk meredakan rasa sakit yang di derita oleh saudara yang sama-sama dilahirkan di Tanah air ini.

Saat ini saya akan mengangkat kisah, Kisah Perjuangan dan Wafatnya seorang Penyandang Tumor Ganas. Dia adalah Seorang Bapak (tidak saya sebutkan namanya) yang terus berjuang demi mencukupi kehidupan, beliau berjuang setiap harinya mencari dan mengumpulkan gelas-gelas plastik bekas yang beliau dapat dari salah satu pondok pesantren, yang hasilnya hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan mungkin saja tidak cukup, toh berapa sih pendapatan yang di dapat dari gelas-gelas plastik itu. Bahkan tak jarang sang Bapak dan keluarganya  mendapatkan makanan dari hasil belas kasihan sanak saudara maupun tetangga. Beliau menekuni hal itu setiap harinya dengan membawa beban berat dilehernya. Betul sekali, beban berat dilehernya itu adalah Tumor, Tumor yang sudah dideritanya sejak 3 tahun lalu.

Beruntungnya beliau masih mendapatkan bantuan dari Salah seorang Pimpinan Pondok Pesantren yang tidak jauh dari tempat tinggal sang bapak pengidap tumor. Kyai tersebut membantu semampu beliau, bahkan beliau pula (Pak Kyai) yang memberitahu kami bahwa ada seorang Bapak yang Mengidap Penyakit Tumor. Beliau pula yang memerintahkan para santrinya untuk mengumpulkan gelas minuman yang sudah digunakan, yang nantinya akan diberikan kepada sang Bapak.

Disinilah mulai bermunculan pertanyaan di benak saya. Dimanakah mereka para pejabat desa? Mengapa mereka seolah-oleh diam saja, dimana mereka ketika ada warga atau rakyatnya sedang membutuhkan pertolongan. Dimana Rt, Rw, Kepala Desa setempat. Dimana Dinas Sosial yang seharusnya bertindak ketika ada permasalahan semacam ini, ataukah mereka sibuk melempar tangan bahwa Dinas A, B atau dinas C lah yang bertanggung jawab, atau apalah itu.

Lalu sebenarnya, siapakah yang harus bertanggung jawab akan hal semacam ini. Lalu apa saja yang sudah dilakukan pemerintah untuk membantu sang Bapak. Dimanakah bapak BUPATI itu, memang benar yang dikatakan sebagian kalangan, para pemimpin itu datang hanya pada saat pemilihan (kampanye) saja, dan setelah itu mereka (rakyat) di hempaskan begitu saja. Lalu dimanakah gerangan dinas-dinas terkait, ataukah mereka sedang terlelap diruangan pribadinya dan sidang-sidang rapatnya yang penuh ac itu.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, sekarang sang Bapak sudah menghadap sang Ilahi. Selesai sudahlah penderitaan panjangnya selama ini. Dengan melaporkan kepada Sang Khalik, bahwa mereka para pemangku BIROKRASI adalah sekumpulan orang-orang keparat yang membiarkan rakyatnya menderita.